Shalat Jama’ dan Qashar

MUQADDIMAH

Di antara kebaikan Islam adalah diperbolehkannya shalat qashar dan jamak di  dalam perjalanan. Karena pada umumnya sebuah perjalanan selalu disertai  dengan kesulitan. Sedangkan Islam adalah agama kasih sayang dan kemudahan. Allah Subhanahu wata ‘ala berfirman;

 وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا

”Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqasharshalat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir.” (QS. An-Nisa’ : 101)

’Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anh merasa heran terhadap ayat ini sehingga beliau bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab;

”Itu adalah shadaqah yang Allah shadaqahkan untuk kalian, maka terimalah shadaqahNya.”

(HR. Muslim : 686, Abu Dawud : 1187, Tirmidzi : 5025,

Ibnu Majah : 1065)

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anh , beliau berkata;

”Allah mewajibkan shalat 4 (empat) raka’at ketika bermukim, 2 (dua) raka’at didalam perjalanan, dan 1 (satu) raka’at ketika dalam keadaan takut.” (HR. Muslim : 687, Abu Dawud : 1234, Ibnu Majah : 1068)

MENGQASHAR SHALAT

1. Definisi Mengqashar Shalat

Mengqashar shalat yaitu meringkas shalat 4 (empat) raka’at (Dhuhur, Ashar, dan Isya’) menjadi 2 (dua) raka’at. Dan shalat qashar ini tidak boleh dilakukan kecuali di dalam perjalanan saja. Sedangkan shalat Maghrib dan Shubuh tidak dapat diqashar. Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata;

الصَّلَاةُ أَوَّلُ مَا فُرِضَتْ رَكْعَتَيْنِ فَأُقِرَّتْ صَلَاةُ السَّفَرِ وَأُتِمَّتْ صَلَاةُ الْحَضَرِ

“Shalat itu pada awal diwajibkan adalah 2 raka’at, kemudian shalat di perjalanan ditetapkan dan shalat di rumah disempurnakan.”

(Muttafaq Alaihi. HR. Al-Bukhari : 1090, lafazh ini miliknya, Muslim : 675)

Catatan :

  • Apabila orang musafir bermakmum kepada orang mukim maka ia harus menyempurnakan shalatnya (tidak mengqashar). Diriwayatkan dari Abu Milja Radhiyallahu ‘anh, beliau berkata;

”Aku bertanya kepada Ibnu ’Umar Radhiyallahu ‘anh , ’Seorang musafir mendapati dua raka’at dari shalat satu kaum –orang-orang yang mukim-, apakah dua raka’at sudah cukup baginya atau ia harus melakukan shalat seperti kaum itu?, ’Lalu beliau tertawa dan berkata, ’Ia melakukan shalat seperti mereka.’”

(HR. Baihaqi III/157 dishahihkan oleh Al-Albani)

  • Apabila orang mukim bermakmum kepada orang musafir, maka orang musafir itu disunnahkan mengqashar shalatnya. Sementara orang yang mukim harus menyempurnakan shalatnya setelah imamnya salam.

2. Hukum Mengqashar Shalat

Shalat qashar di dalam perjalanan adalah Sunnah mu’akkadah dalam kondisi aman maupun takut. Diriwayatkan dari Ibnu ’Umar Radhiyallahu ‘anh bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda;

إِنَّ اَللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ

”Sesungguhnya Allah suka bila rukhshah (keringanan)-Nya dilaksanakan, sebagaimana Dia benci bila maksiatnya dilaksanakan.”

(HR. Ahmad. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

Jika seorang musafir menyempurnakan shalatnya (tidak melakukan qashar) maka shalatnya sah.

3. Batasan Jarak Bolehnya Mengqashar Shalat di Perjalanan

Para ulama telah berbeda pendapat mengenai jarak perjalanan diperbolehkannya qashar shalat. Dalam hal ini ada lebih dari 20(dua puluh) pendapat. Namun pendapat dari Ibnul Qayyim Rahimahullah dan Ibnu Taimiyah Rahimahullah adalah yang paling mendekati kebenaran, dan lebih sesuai dengan kemudahan Islam. Al-Allamah Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad juz I hal. 189 mengatakan;

“Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam tidak membatasi bagi umatnya pada jarak tertentu untuk mengqashar shalat dan berbuka. Bahkan hal itu mutlak saja bagi mereka mengenai jarak perjalanan itu. Sebagaimana Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam mempersilahkan kepada mereka untuk bertayamum dalam setiap bepergian. Adapun riwayat mengenai batas sehari, dua hari, atau tiga hari, sama sekali tidak benar.Wallahu A’lam.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah menjelaskan;

“Setiap nama dimana tidak ada batas tertentu baginya dalam bahasa maupun agama, maka dalam hal itu dikembalikan kepada pengertian umum saja, sebagaimana “bepergian” dalam pengertian kebanyakan orang, yaitu bepergian dimana Allah Shubhanallahu wa ta’ala  mengaitkannya dengan suatu hukum.”

Jadi jarak yang membolehkan seseorang untuk melakukan mengqashar shalat adalah setiap orang yang dinamakan musafir secara tradisi, dan dia  membutuhkan bekal dan kendaraan.

4. Tempat Mulai Diperbolehkan Mengqashar Shalat

   Mayoritas ulama’ berpendapat bahwa, disyariatkan menqashar shalat ketika telah meninggalkan tempat mukim dan keluar dari tempat tinggal. Ibnul Mundzir Rahimahullah berkata;

”Aku tidak mengetahui bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam melakukan qashar dalam beberapa safar kecuali beliau telah keluar dari Madinah.”

Pada Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 101 Allah lmengaitkan antara mengqashar shalat dengan bepergian diatas bumi. Dan tidak dianggap berpergian diatas bumi hingga berpisah dengan bangunan terakhir di kampung tempat tinggalnya.

 

5. Batasan Waktu Bolehnya Mengqashar Shalat Bagi Musafir

Apabila seorang musafir tinggal di suatu daerah untuk menunaikan kepentingan, namun tidak berniat mukim, maka dia diperbolehkan melakukan qashar hingga meninggalkan daerah tersebut. Hal ini sebagaimana hadits dari Jabir Radhiyallahu ‘anh ia berkata;

أَقَامَ بِتَبُوكَ عِشْرِينَ يَوْمًا يَقْصُرُ اَلصَّلَاةَ

”Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam  tinggal di Tabuk selama 20(dua puluh) hari sambil tetap mengqashar shalat.” (HR. Abu Dawud : 1223)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam tetap mengqashar shalat karena belum bertekad untuk tinggal di Tabuk dan tidak diketahui kapan waktunya kembali.

Catatan :

  • Apabila seorang musafir berniat mukim, maka dia shalat secara lengkap (sempurna) setelah 19 (sembilan belas) hari. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ’Abbas Radhiyallahu ‘anh;

”Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam tinggal selama 19 (sembilan belas) hari sambil melakukan qashar. Jika kami malakukan safar selama 19 (sembilan belas) hari, maka kami melakukan qashar. Dan lebih dari itu, maka kami menyempurnakan shalat.”

(HR. Bukhari : 1080, Tirmidzi : 547)

  • Apabila seorang lupa (tidak melaksanakan) shalat di rumah, kemudian berangkat safar lalu teringat (shalat yang terlupakan tersebut) ketika berada di perjalanan, maka ia boleh mengqadhanya secara qashar. Dan bila seseorang musafir lupa (tidak melaksanakan) shalat di perjalanan, sementara ia sudah sampai di rumah tempat tinggalnya maka ia harus mengqadhanya secara sempurna (bukan qashar). Ini adalah pendapat Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri.

MENJAMA’ SHALAT

1. Definisi Menjama’ Shalat

Menjama’ shalat adalah menggabungkan dua shalat dengan mengerjakannya pada salah satu waktunya, dan shalat yang dapat dijama’ adalah khusus Dhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’. Berdasarkan hadits dari ’Abdullah bin ’Abbas Radhiyallahu ‘anh ia berkata;

”Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam  menjama’ shalat Dhuhur dengan Ashar bila dalam perjalanan dan menjama’ shalat Maghrib dengan Isya’.” (HR. Bukhari : 1107)

 2. Macam-macam Menjama’ Shalat

Jama’ dibagi menjadi dua antara lain :

a. Jama’ Taqdim adalah menggabungkan dua shalat dengan mengerjakannya pada waktu pertama.

Yaitu :

Dhuhur dengan Ashar dikerjakan diwaktu dhuhur

Maghrib dengan Isya’ dikerjakan diwaktu Maghrib

b. Jama’ Takhir adalah menggabungkan dua shalat dengan mengerjakannya pada waktu kedua.

Yaitu :

Dhuhur dengan Ashar dikerjakan diwaktu Ashar

Maghrib dengan Isya’ dikerjakan diwaktu Isya’.

Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anh ia berkata;

كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ غَزْوَةِ تَبُوْكَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ زَيْغِ الشَّمْسِ أَخَّرَ الظُّهْرِ إِلىٰ أَنْ يَجْمَعَهَا إِلىَ الْعَصْرِ فَيُصَلِّيْهَا جَمِيْعًا وَإِذَا ارْتَحَلَ بَعْدَ زَيْغِ الشَّمْسِ عَجَّلَ الْعَصْرَ إِلىَ الظُّهْرِ وَصَلىَّ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيْعًا ثُمَّ سَارَ وَكَانَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ الْمَغْرِبِ أَخَّرَ الْمَغْرِبَ حَتىّٰ يُصَلِّيَهَا مَعَ الْعِشَاءِ وَإِذَا ارْتَحَلَ بَعْدَ الْمَغْرِبِ عَجَّلَ الْعِشَاءَ فَصَلاَّهَا مَعَ الْمَغْرِبِ .

“Adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam  dalam peperangan Tabuk, apabila hendak berangkat sebelum tergelincir matahari, maka beliau mengakhirkan Dzuhur hingga beliau mengumpulkannya dengan Ashar, lalu beliau melakukan dua shalat itu sekalian. Dan apabila beliau hendak berangkat setelah tergelincir matahari, maka beliau menyegerakan Ashar bersama Dzuhur dan melakukan shalat Dzuhur dan Ashar sekalian. Kemudian beliau berjalan. Dan apabila beliau hendak berangkat sebelum Maghrib, maka beliau mengakhirkan Maghrib sehingga mengerjakannya bersama Isya’, dan apabila beliau berangkat setelah Maghrib, maka beliau menyegerakan Isya’ dan melakukan shalat Isya’ bersama Maghrib.”

(HR. Abu Dawud : 1220, Tirmdizi II/438, Daruquthni : 151, Baihaqi III/163, dan Ahmad V/241-242)

 3. Sebab-Sebab Diperbolehkannya Menjama’ Shalat

Sebab-sebab diperbolehkannya menjama’ shalat adalah :

1. Safar

Dari Ibnu ’Abbas Radhiyallahu ‘anh  berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ n يَجْمَعُ بَيْنَ صَلَاةِ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ إِذَا كَانَ عَلَى ظَهْرِ سَيْرٍ وَيَجْمَعُ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ

”Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam  menjamak antara shalat Dhuhur dan Ashar bilamana beliau berada di tengah perjalanan dan menjamak antara Maghrib dan Isya’.”(HR. Al-Bukhari : 1107)

2. Kebutuhan yang mendesak

Diperbolehkan seorang yang mukim untuk menjama’ shalat karena adanya suatu kebutuhan datang tiba-tiba dan mendesak, dengan syarat tidak menjadikan sebagai kebiasaan. Diriwayatkan dari Ibnu ’Abbas Radhiyallahu ‘anh , beliau berkata;

”Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menjama’ antara shalat Dhuhur dan ’Ashar, demikian pula antara shalat Maghrib dan Isya’ di Madinah. Padahal beliau tidak berada dalam keadaan takut atau hujan.” Ibnu ’Abbas Radhiyallahu ‘anh ditanya, ’Apakah maksud beliau melakukan hal itu?’ Ia menjwab, ’Agar tidak memberatkan umatnya.’ (HR. Muslim : 705, Abu Dawud : 1198)

Berkata Syaikh Muhammd Nashiruddin Al-Albani Rahimahullah;

”Jika seseorang berada di daerah tempat tinggalnya dengan kata lain tidak sedang bepergian, maka ia harus memelihara shalat tepat pada waktunya dengan berjama’ah. Akan tetapi jika orang tersebut mendapatkan halangan untuk melaksanakan shalat tepat pada waktunya dengan berjama’ah, maka ia boleh melaksanakan shalat dengan jama’ baik dengan jama’ taqdim atau jama’ takhir.”

3. Hujan yang memberatkan untuk keluar ke masjid

Seperti hujan yang sangat deras yang memberatkan seseorang untuk keluar ke masjid, cuaca sangat dingin, atau angin kencang yang dingin. Diperbolehkan pula menjama’ shalat bagi yang mengalami istihadhah, orang yang menderita beser kencing, dan yang semisalnya.

Dari Musa bin ’Uqbah;

”Ketika turun hujan, ’Umar bin Abdul Aziz t pernah menjama’ shalat Maghrib dengan Isya’ di akhir waktu. Sedangkan Said bin Musayyab Rahimahullah, ’Urwah bin Az-Zubair, Abu Bakar bin ’Abdurrahman, beserta para ulama’ zaman itu bermakmum dibelakangnya. Namun mereka tidak mengingkari perbuatan tersebut.”

(HR. Al-Baihaqi III/168, 169, Irwaa’ul Ghalil III/40)

Berkata Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Rahimahullah;

”Boleh menjama’ antara Maghrib dan Isya’, antara Dhuhur dan Ashar karena hujan yang memberatkan untuk keluar ke masjid. Demikin pula dengan lumpur dan banjir yang mengalir di pasar-pasar, karena pada hal tersebut ada kesulitan. (Ini menurut) pendapat terkuat dari dua pendapat ulama’.”

Catatan :

  • Orang yang hendak menjamak shalat Dhuhur dan Ashar, atau Maghrib dan Isya’, disunnahkan mengumandangkan adzan kemudian iqamah dan mengerjakan shalat yang pertama, kemudian mengumandangkan iqamat dan mengerjakan shalat yang kedua. Ini adalah pendapat Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri.
  • Orang yang safar hendaknya tetap melakukan shalat secara berjama’ah diantara mereka. Berkata Syaikh Muhammd Nashiruddin Al-Albani Rahimahullah;

”Shalat jama’ah yang digugurkan (bagi musafir) adalah shalat jama’ah bersama masyarakat setempat, sedangkan untuk sesama musafir mereka tetap wajib mendirikan shalat berjama’ah.”

  • Apabila seorang musafir telah sampai tujuan, maka tidak menjama’ shalat adalah lebih utama. Berkata Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Rahimahullah;

”Tidak menjama’ lebih afdhal (utama) jika musafir itu diam/tinggal, tidak dalam perjalanan. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi n saat di Mina pada haji Wada’. Beliau mengqashar shalat dan tidak menjama’.”

Berkata Syaikh Shalih bin Ghanim As-Sadlan;

”Apabila dia (musafir) menetap di sebuah tempat, maka yang sunnah adalah melakukan shalat sesuai waktunya.”

  • Shalat-shalat sunnah rawatib ditinggalkan ketika sedang bepergian, kecuali rawatib shubuh, shalat tahajjud, witir dan sunnah fajar. Sedangkan shalat-shalat sunnah yang mutlak tetap dianjurkan, baik di rumah maupun di perjalanan. Begitu juga dengan shalat-shalat yang memiliki sebab-sebab tertentu, seperti shalat sunnah wudlu, sunnah thawaf, tahiyyatul masjid, Dhuha dan sebagainya. Ibnu ’Umar Radhiyallahu ‘anh – ketika melihat banyak orang yang melakukan shalat nafilah (sunnah) didalam perjalanan- berkata;

”Seandainya aku melakukan shalat nafilah, niscaya aku akan melakukan shalat (fardhuku) dengan itmam (sempurna, tidak diqashar).” (HR. Muslim : 689, Tirmidzi : 544)

  • Dianjurkan bagi musafir untuk tetap melaksanakan shalat sunnah dan shalat Witir di atas kendaraannya, agar senantiasa meneladani Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam. Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anh menceritakan,

”Adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam mengerjakan shalat di dalam perjalanan di atas kendaraannya sesuai dengan arah perjalanannya. Beliau memberikan isyarat dengan kepala, beliau mengerjakan shalat malam kecuali shalat wajib. Dan beliau juga mengerjakan shalat witir di atas kendaraannya.” (HR. Bukhari : 1000).

  • Seorang pilot, sopir, nahkoda kapal, masinis  dan orang-orang yang terus-menerus berada di perjalanan boleh mengambil rukhshah-rukhshah (keringanan) safar (bepergian), seperti shalat qashar, jamak, berbuka puasa dan mengusap khuf (boot). Ini adalah pendapat Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri.
  • Seorang musafir yang telah menjama’ shalat tidak harus mengulangi shalat setelah tiba di tempat tinggalnya, meskipun waktu shalat masih ada. Berkata Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Rahimahullah;

“Jika ia menjama’ dan mengqashar shalat dalam perjalanan kemudian tiba di tempat mukimnya sebelum masuk waktu shalat kedua atau pada waktu shalat kedua, ia tidak harus mengulanginya, karena ia telah melaksanakan sesuai dengan tuntunan syar’i. Tetapi jika ia melaksanakan (shalat) lagi bersama jama’ah, maka itu sunnah baginya.

MARAJI’

  1. Al-Wajiz Fi fiqhis Sunnah wal Kitabil Aziz, Abdul Azhim bi badawi Al-Khalafi.
  2. Bulughul Maram min Adilatil Ahkam, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani.
  3. Fiqhus Sunnah lin Nisaa’i wa ma Yajibu an Ta’rifahu Kullu Muslimatin mi Ahkam, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim.
  4. Kitabul Adab, Fuad Abdul Aziz Asy-Syalhub.
  5. 5.      Majmu’ah Fatawa Madinatul Munawwarah, Muhammad Nashirudin Al-Albani.
  6. Mukhtasharul fiqhil Islami, Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri.
  7. Silsilah Al-Hadits Ash-Shahihah, Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
  8. Taisirul Allam Syarhu Umdatil Ahkam, Abdullah bin Abdurrahman Ibnu Shalih Alu Bassam.
  9. Taisirul Fiqh, Shalih bin Ghanim As-Sadlan.
  10. Tuhfatul Ikhwan bi Ajwibatin Muhammatin Tata’allaqu bi Arkanil Islam, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz.
  11. Umdatul Ahkam min Kalami Kharil Anam, Abdul Ghani al-Maqdisi.

Selengkapnya silakan download buku dalam format CHM atau PDF atau DeJavu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: